HAPPY NEW YEAR

Warga Doropayung Dipaksa Bertahan Hidup di Tengah Genangan Tiap Tahun

waktu baca 2 menit
Kamis, 29 Jan 2026 11:09 0 97 Singgih Tri

PATI – Mondes.co.id | Seorang penjual kerupuk asal Desa Doropayung, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Masudah (52) merasakan nasib yang buruk setelah banjir melanda kediamannya selama tiga pekan.

Ia rugi karena aktivitas ekonominya lumpuh sampai saat ini.

Bahkan, ia pun serba kekurangan, lantaran tak memiliki tabungan sama sekali untuk menyambung hidup.

Masudah saat ini hanya mampu mengandalkan bantuan yang datang, karena tidak ada penghasilan dan pegangan uang sama sekali.

Terlebih, jualan kerupuk jadi satu-satunya pekerjaan yang dijalankan olehnya sekeluarga.

Tetapi, kini tumbang saat musim hujan melanda dan banjir mendera.

“Kalau punya tabungan ada yang diandalkan, lha ini sudah gak punya sama sekali. Modal habis karena kerupuknya nggak jadi,” ungkapnya ketika diwawancarai di posko pengungsian, Kamis, 29 Januari 2026.

Membuat kerupuk lalu menjajakannya, sudah jadi profesi bertahun-tahun Masudah.

Bahkan, meski curah hujan tinggi, ia tetap berusaha untuk memproduksi kerupuk walaupun hasilnya tak maksimal.

“Waktu itu sudah jarang ada panas, dan kemudian langsung kebanjiran. Jadi kerupuknya belum sempat kering dan akhirnya busuk,” tuturnya.

Hingga kini, ia masih tinggal di posko pengungsian.

Pasalnya, banjir yang menggenangi rumahnya mencapai 1,5 meter, tetapi kini berangsur surut menjadi 80 sentimeter.

“Kemarin sempat surut, tapi semalam naik lagi karena jujan deras. Pas banjir paling tinggi itu ya sampai seleher,” ujar Masudah.

Selain Masudah, Fatonah (63) juga merasakan nasib tragis.

Sejak tiga pekan lamanya, usaha jualan makanan ringan miliknya tutup karena banjir melanda area permukiman dan tambak setempat.

BACA JUGA :  Pokjaluh akan Beri Pembinaan Keagamaan bagi Warga Binaan dan Pasien Rumah Sakit

Ia yang biasanya berjualan untuk para petani tambak, otomatis tidak dapat pembeli, lantaran banjir kali ini melumpuhkan kondisi area tambak ikan.

Bahkan, anaknya yang juga bekerja di tambak ikan, kini tidak bisa bekerja.

“Sejak banjir melanda sudah tak bisa berjualan. Otomatis tak punya penghasilan,” ucapnya.

Nasib Fatonah masih beruntung, lantaran memiliki simpanan yang dari hasil usaha.

Walaupun tabungan menipis, tapi ia masih bisa mengandalkan uang yang dipunya.

“Tidak ada pemasukan, jadi mengandalkan tabungan. Tapi ini tabungan sudah sangat menipis,” lanjutnya.

Tak seperti warga lain yang mengungsi, Fatonah memutuskan tetap tinggal di rumah yang terendam banjir.

“Awalnya mengungsi ke rumah anak, tapi sudah beberapa hari ini tidur di rumah,” bebernya.

Sebagai informasi, 800 rumah di Desa Doropayung terkena banjir.

Sebanyak 1.475 warga terdampak bencana alam yang tiap tahun melanda wilayah ini.

Sebagian besar warga terpaksa mengungsi ke berbagai lokasi karena rumah tak bisa ditinggali.

Sejauh ini, ada 56 jiwa yang mengungsi di posko pengungsian Desa Doropayung.

Sedangkan 600 jiwa lainnya memilih tinggal di tempat lain.

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini